Undecided Voters – Radar Malang Online

Hope 313 oleh Kurniawan Muhammad

Catatan Politik  Pilwali Malang 2018

Dalam setiap kontestasi politik seperti pemilihan kepala daerah (pilkada), selalu saja ada kelompok undecided voters. Kelompok ini adalah pemilik suara nonideologis. Mereka ini tidak punya ikatan politik dengan partai apa pun. Mereka ini bukanlah kader partai politik. Mereka pada akhirnya menggunakan hak pilihnya, dan biasanya memilih calon tidak berdasarkan partainya, tidak berdasarkan ideologinya, tapi yang dilihat adalah track record (termasuk capaian-capaian dan keberhasilannya) dan kefigurannya.

Kelompok undecided voters kebanyakan adalah kelompok masyarakat dari kelas menengah ke atas. Mereka adalah kelompok yang terpapar media massa, dan kelompok masyarakat terdidik (well educated). Mereka ini sangat terpengaruh isu-isu yang berkembang di masyarakat melalui pemberitaan media massa. Mereka ini juga bisa disebut sebagai netizen, yang sangat aktif di media sosial.

Konon, kelompok undecided voters inilah yang membuat pasangan Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok dan Djarot tumbang di Pilkada DKI Jakarta 2017. Mereka dari kelompok undecided voters bisa jadi terpengaruh dengan isu-isu negatif tentang Ahok yang sangat gencar diberitakan sebagai penista agama, sehingga akhirnya pada putaran kedua kelompok undecided voters memutuskan untuk memilih rivalnya Ahok: Anies Baswedan-Sandiaga Uno.



Bagaimana kelompok undecided voters di Kota Malang? Kelompok undecided voters  (unvo) memang beda dengan golput (golongan putih). Kelompok golput memutuskan untuk tidak menggunakan hak pilihnya, sedangkan kelompok unvo menggunakan hak pilihnya. Tetapi, antara golput dan unvo bisa beririsan. Mereka sama-sama kebanyakan bukan dari kalangan akar rumput (grass root). Mereka juga sama-sama kebanyakan dari kalangan berpendidikan menengah ke atas. Mereka sama-sama kebanyakan dari kalangan yang terpapar media massa. Sehingga mereka bisa terpengaruh atau dipengaruhi dengan berbagai isu yang sedang mengemuka melalui pemberitaan di media massa.

Seberapa besar kira-kira kelompok unvo ini di Kota Malang?  Dari berbagai survei yang pernah saya lihat terkait Pilkada Kota Malang ini, kelompok unvo ini diperkirakan berkisar antara 10–20 persen. Pertanyaan untuk kelompok unvo ini biasanya seperti ini setiap kali survei dilakukan: Apakah Anda memilih? Jawabannya: Memilih. Tetapi, ketika ditanya siapa pasangan yang dipilih? Mereka belum bisa memutuskan. Nah, kelompok seperti inilah yang disebut sebagai kelompok unvo, dan jumlahnya diperkirakan berkisar antara 10–20 persen.

Dalam konteks Pilkada Kota Malang, keberadaan kelompok unvo sangat bisa menentukan siapa yang akan menang. Pertama, karena ketiga pasangan yang sudah mendaftar ke KPU Kota Malang, sama-sama punya jalur di akar rumput. Moch. Anton dengan PKB dan NU-nya, dan juga dengan kegiatan sosialnya (setiap bulan sekali selalu mengadakan pengajian, mengundang ibu-ibu, tukang becak, dan kaum duafa lainnya, dan selalu diberi bingkisan. Kegiatan seperti ini bahkan dilakukan sebelum dia menjadi wali kota). Ya’qud Ananda Gudban dengan PDIP (punya kader militan di pelosok-pelosok) dan juga aktivitas sosialnya (sering mendatangi konstituennya). Dan Sutiaji yang juga merupakan figur yang cukup dikenal di kalangan masyarakat bawah dengan kegiatan ceramah kelilingnya, khotbah di masjid-masjid. Artinya, suara akar rumput akan diperebutkan oleh tiga figur itu. Karena itu, jika ingin menambah suara, maka ketiga figur tersebut harus bisa menarik perhatian kelompok unvo.  Karena bisa jadi, suara kelompok unvo inilah yang akan menjadi penentu kemenangan.

Faktor kedua mengapa kelompok unvo bisa menjadi penentu kemenangan, karena kelompok ini sangat aktif memengaruhi dan dipengaruhi di media sosial. Isu-isu yang digulirkan di medsos (terlepas itu hoax atau bukan) sering menjadi senjata yang bisa sangat kuat memengaruhi opini publik.

Lantas siapa di antara ketiga figur itu yang berpotensi mencuri perhatian para unvo? Ketiga-tiganya punya potensi yang sama. Anton dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos, apa adanya, bisa menarik perhatian kelompok unvo. Ya’qud Ananda Gudban dengan intelektualitasnya (doktor ilmu ekonomi Universitas Brawijaya), juga bisa menarik perhatian kalangan well educated. Dan Sutiaji dengan pendekatannya yang humanis, dan dengan suara merdunya, ini juga bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi kalangan unvo.

Dari semua itu, yang tak kalah pentingnya adalah track record dan portofolio dari setiap figur. Masyarakat dari kelompok unvo adalah kelompok masyarakat yang cerdas dan kritis. Mereka bisa sangat detail mengamati pemikiran, dan sepak terjang para figur yang akan dipilih. Melalui media massa, dan melalui media sosial.

Bagaimana dengan kelompok golput? Kelompok golput bisa dari kelompok unvo. Dan kelompok unvo bisa dari kelompok golput. Karena itu, dua kelompok ini bisa saja beririsan satu sama lain.

Yang jelas, pada dua kali pilkada di Malang Raya, dalam lima tahun terakhir, angka golputnya mencapai 40 persen lebih. Baik pada pilkada di Kabupaten Malang pada 2015 lalu, maupun di Pilkada Kota Malang sebelumnya (2013). Kedua pilkada itu sama-sama tinggi angka golputnya, yakni sama-sama di atas 40 persen.

Marilah kita lihat pada Pilkada Kota Malang tahun ini. Seberapa kelompok unvo bisa menentukan kemenangan? Dan seberapa besar kelompok golputnya?  (kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp

Penulis adalah Magister Ilmu Politik FISIP Unair