Waspadai Dampak Letupan Global

Waspadai Dampak Letupan Global

JawaPos.com – Nilai tukar rupiah sejak akhir Juli lalu hingga pertengahan Agustus ini konsisten mengalami depresiasi. Pelemahan tersebut sepenuhnya dipicu faktor-faktor eksternal.

Namun, pemicu pelemahan rupiah pada bulan ini dan bulan sebelumnya berbeda.

Pada akhir Juli lalu, eskalasi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok semakin tinggi. Ekspektasi ke depan ekonomi global yang dimotori Tiongkok akan semakin lemah.

Padahal, kita sangat banyak berhubungan dengan mereka, khususnya dari sisi perdagangan dan investasi. Hal itu membuat potensi defisit neraca perdagangan Indonesia melebar. Jika ekonomi Tiongkok terus memburuk, (ekonomi) kita juga akan semakin lemah.



Beberapa hari lalu Tiongkok mengumumkan pelemahan mata uang mereka, yuan. Karena rupiah banyak sekali berkorelasi dengan mereka, kita juga akan terkena dampak dari sisi perdagangan dan investasi. Kita mengekspor banyak barang komoditas ke Tiongkok.

Sementara itu, dari mereka, kita mengimpor capital goods, raw material, sampai barang konsumsi. Dengan nilai yuan yang semakin murah, jumlah impor kita akan barang-barang Tiongkok bakal meningkat. Melonjaknya impor tersebut bisa berdampak pada makin besarnya defisit neraca perdagangan. Hal itu akan kembali pada fundamental rupiah yang bisa melemah.

Beberapa hari terakhir ini, pemicu pelemahan rupiah agak berbeda. Yakni, hasil pra-pemilu Argentina yang di luar dugaan. Sebelumnya, Presiden Argentina (incumbent) Mauricio Macri adalah orang yang dekat dengan pasar atau free market, tetapi ternyata pada Oktober berpotensi kalah. Digantikan pemimpin oposisi Alberto Fernandez yang cenderung lebih proteksionis. Akhirnya, sangat banyak investor portofolio di Argentina yang menarik dana mereka dari negara tersebut.

Nah, biasanya, kalau para investor itu menarik dana mereka dari salah satu negara berkembang, negara berkembang lainnya akan terdampak. Kalau satu negara kena dampaknya, kita pun kena. Sebab, mereka akan menarik berbarengan dari negara berkembang. Akhirnya, yang kuat adalah dolar. Ini hampir sama dengan kejadian tahun lalu, yaitu ketika Turki mengalami depresiasi mata uang yang cukup parah.

Jadi, di satu sisi, kalau dilihat dari pasar modal di Indonesia, fluktuasi dan aliran modalnya yang bergerak keluar-masuk sangat bergantung pada kondisi global. Di sisi lain, ada PR structural dari neraca pembayaran Indonesia (NPI) yang perlu dibenahi. Dengan demikian, jika hal-hal seperti itu terjadi, misalnya pelemahan lira Turki yang cukup dalam tahun lalu dan kemudian Argentina tahun ini yang terjadi pada pasar modal, rupiah tidak akan terdampak.

Kondisi sekarang, setiap kali ada keadaan luar biasa di global, rupiah pasti terkena. Salah satunya, unjuk rasa di Hongkong yang dikhawatirkan memunculkan invertensi politik dari Tiongkok. Jika pasar bereaksi atas kondisi politik tersebut, lalu terjadi outflow lagi, mata uang mereka akan melemah. Mau tidak mau, mata uang kita ikut melemah. Jadi, hal-hal campuran cerita di global itulah yang membuat rupiah melemah.

Pada dasarnya, pasar modal akan bergerak jika ada hal di luar dugaan. Jadi, pelemahan rupiah ini memang bisa disebut temporer karena ada letupan-letupan di luar dugaan. Namun, pertanyaannya, apakah letupan-letupan di luar itu hanya terjadi sekali atau berturut-turut? Itulah yang harus dicermati ke depan.