Wisanggeni Reformasi Gugur

SELASA (17/9) siang benar-benar menjadi hari kematian bagi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Itu setelah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) ngotot mengesahkan Revisi Undang-undang KPK (RUU KPK). Meski, sudah tidak terhitung berapa banyak yang menentangnya.

Kematian ini memang bukan kematian dalam artian sesungguhnya. Bukan berarti lembaga antirasuah itu dibubarkan. Namun, dalam arti tugas dan kewenangannya yang dilucuti oleh pemerintah dan orang-orang yang mengaku “wakil rakyat”. KPK mati, karena praktis tak bisa lagi bekerja maksimal dalam tugasnya: memberantas korupsi. Sebab, tak punya lagi pedang tajam untuk menghunus para koruptor dan sekutunya.

Makin bikin geregetan karena gerak lakunya juga dibatasi agar tak leluasa dalam mencari koruptor. Itulah kenapa, sejak disahkannya RUU KPK, argumentasi yang digembar-gemborkan untuk menguatkan pemberantasan korupsi bisa dikatakan jauh panggang dari api. Sebab, tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya. Pemerintah dan DPR hanya bersilat lidah membuat opini publik, agar dinilai berpihak pada rakyat. Padahal, sejatinya mereka telah melakukan pembohongan publik.

Di sisi lain, disahkannya RUU KPK tidak menyurutkan semangat untuk terus menyuarakan protes. Sebagai bentuk ungkapan duka cita, malamnya, ratusan pegawai lembaga antirasuah yang tergabung dalam Wadah Pegawai (WP) KPK, bersama koalisi masyarakat sipil, mahasiswa dan akademisi menggelar aksi teatrikal pemakaman KPK. Meski hanya sebagai bentuk simbolis, tapi itu harusnya menjadi tamparan bagi rezim Jokowi karena telah memberangus “anak kandung reformasi”.



Tak sedikit pegawai dan masyarakat yang ikut aksi tersebut meneteskan air mata. Tak berlebihan rasanya, karena kelompok masyarakat sipil dan pegawai yang selama ini turut berjuang membersihkan negeri ini dari penyakit kronis Korupsi, Kolusi, Nepotisme (KKN), merasa kehilangan dan patah hati.

Apa yang terjadi pada KPK, seperti kisah yang dialami oleh Wisanggeni. Orang yang digambarkan istimewa dalam tokoh pewayangan Jawa. Namun sebenarnya tak dikehendaki kelahirannya. Dia merupakan putra Raden Arjuna yang lahir dari rahim bidadari yang cantik jelita, Dewi Dresanala (Putra Bhatara Brahma). Meski dikenal tegas dalam bersikap, serta memiliki kesaktian luar biasa, Wisanggeni akhirnya tewas mengenaskan demi kemenangan putra Pandawa, dalam perang Bharatayuda.

Mengutip buku Bharatayuda: Ajaran, Simbolisasi, Filosofi, dan Maknanya dalam Kehidupan Sehari-hari karya Wawan Susetya, kelahiran Wisanggeni diawali dengan ketidaksukaan Dewasrani (Putra Bhatari Durga). Dia iri dengan kesuksesan yang kerap diraih Arjuna. Kedengkian makin menjadi setelah Arjuna dinobatkan menjadi raja di Karang Kawidodaren dan bergelar Prabu Kariti. Dewasrani makin panas ketika Arjuna mempersunting Dewi Dresanala.

Menurutnya, Arjuna dianggap tidak pantas dan tidak berhak mendapatkan semua itu karena dia adalah manusia biasa. Bukan sepertinya dirinya yang keturunan dewa. Untuk memenuhi hasratnya, Dewasrani meminta Bhatari Durga, ibunya, memisahkan kedua pasangan suami istri itu. Demi sang anak, Bhatari Durga pun meminta suaminya, Bhatara Guru (Raja Para Dewa) untuk menuruti keinginannya.

Bhatara Guru lantas meminta Bhatara Brahma untuk memisahkan Arjuna dan Dresanala. Tak kuasa menolak permintaan tersebut, Brahma pun mengiyakannya. Bhatara Brahma yang dikenal sebagai Dewa Api dan dewa yang menguasai segala racun, diam-diam mendatangi Pertapaan Kendhalisada. Itu adalah tempat di mana Arjuna menyembunyikan Dewi Dresanala. Tujuannya, mengugurkan kandungan Dewi Dresanala.

Namun, ketika sampai, dia mendapati kalau Dewi Dresanala sudah melahirkan. Lantaran sudah tidak mungkin menggugurkan, dia lantas memilih untuk membunuh cucunya yang masih merah, Dia lantas menggigit cucunya sendiri tanpa ampun. Namun ajaib. Bukanya tewas, bayi yang kelahirannya tidak diinginkan tersebut jutru tumbuh sehat. Atas gigitan sang kakek, sang bayi malah memiliki kekuatan berdaya tenaga api. Dikisahkan, siapapun yang mendekat, akan hancur lebur oleh kekuatannya.

Sang jabang bayi keturunan dewa tersebut, tumbuh menjadi pemuda yang sehat dan sakti mandra guna. Dia tumbuh dibesarkan oleh Batara Baruna (Dewa Penguasa Lauatan) dan Hyang Antaboga (Rajanya Ular yang tinggal di dasar bumi). Di jagat pewayangan, dia bisa terbang seperti Gatotkaca dan masuk ke bumi seperti Antareja serta hidup di laut layaknya Antasena. Wisanggeni berarti bisanya api. berasal dari wisa yang berarti bisa dan geni atau api.

Tak peduli siapapun pasti dibakar Wisanggeni. Musuh atau saudara, teman atau tetangga. Kriteriannya hanya satu, yang dibicarakan adalah kebenaran. Kebatilan adalah musuhnya. Karena kesaktianya dan dilindungi Sang Hyang Wenang, leluhur Bhatara Guru, Wisanggeni berhasil mengalahkan semua penduduk kahyangan. Tak seorang pun yang bisa mengalahkan dirinya.

Namun nahas, dia harus tewas menjadi tumbal, agar Pandawa memenangkan perang Bharatayudha. Barangkali karena itulah, kematiannya dikehendaki seluruh dewa-dewa di kahyangan. Tekad baja dan semangat kekuatan luar biasanya kelak akan dapat membinasakan Pandhawa yang menang atas Kurawa.

Dalam konteks kelahirannya, KPK memang anak kandung reformasi. Namun, kelahirannya seolah tidak dikehendaki oleh para pihak yang terganggu sepak terjangnya. Sebab, KPK punya banyak keistimewaan dan kewenangan. Terbukti, selama kurang lebih 17 tahun, lembaga antirasuah mampu menyeret dan menjebloskan para pelaku korupsi yang berasal dari pejabat atau penyelenggara negara. Mulai dari eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Tercatat, untuk anggota DPR ada 70 orang yang pernah merasakan ”kibasan api” KPK. Lalu, DPRD sebanyak 165 orang. Kepala daerah juga sama, jumlahnya 165 orang. Khusus untuk ketua umum partai politik, sudah ada 5 orang yang terjerat kasus korupsi. Mereka antara lain, Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum, Ketua Umum Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfie Hasan Ishaq, Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Suryadharama Ali, Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto, dan yang terbaru Ketua Umum PPP M. Romahurmuziy.

Selain para politisi, KPK juga sudah menngamankan pelaku korupsi dari sektor swasta. Mereka disinyalir bisa menggerakkan jaring-jaring penyelanggara negara. Prestasi yang rasanya mustahil dilakukan oleh lembaga penegak hukum lain seperti kepolisian dan kejaksaan. Atas sepak terjangnya tersebut, banyak yang sangat terganggu.

Oleh karena itu, mereka ramai-ramai melucuti kekuatan lembaga yang kini dipimpin Agus Rahardjo cs. Tujuannya jelas, supaya kewenangannya menindak korupsi tak tajam lagi. Bahkan, kalau bisa dihilangkan.

Kali ini, melalui revisi undang-undang yang menjadi dasar KPK untuk menegakkan hukum. Setelah berkali-kali diserang, KPK benar-benar ”mati”. Ini karena lembaga antirasuah tersebut diminta pasrah menerima hasil revisi dengan dalih agar terciptanya stabilitas ekonomi. Akankah KPK bisa hidup dan perkasa lagi seperti Wisanggeni? Waallhua’alam Bissawab!